Puisi

Puisi-puisi Karya Isbedy Stiawan ZS

495 Tahun Kemudian

dulu, selalu kurindu mengunjungi

jakarta, ibukota, di sini ada

kekasihku. “ia none betawi, rumahnya

di kemayoran. tak jauh dari lapangan

terbang. aku sering terbang-terbangan

dan ketika pulang diberinya sangu:

sebuah ciuman amat mesra

dan “selamat di jalan, pangeran,” katanya

 

aku berkeliling jakarta. hanya kutatap

monumen nasional, tak pernah kujamah

sebab aku lebih mencintai taman ismail

marzuki. di sini, apakah ada kekasih

yang menunggu? setiap katakata adalah

kekasih, setiap menyaksikan pertunjukan

adalah kemesraan. ciuman yang indah,

gadis yang merayu dengan bibirnya

lelaki metropolis yang berdiri di halte

“halo…”

lalu sunyi. gemuruh di hati

 

dulu dinamai batavia, kompeni datang

dan menunggui rempah kiriman dari

sumatera dan daerah lain di hindia ini

lalu diangkut ke negerinya

kemudian dikirim lagi serdadu

ke tanah jajahan ini,

negeri yang selalu dirundung sedih

nasib yang begitu amat perih

 

aku pernah ingin tinggal di sini

seperti para migran hidup mandiri

tapi, kurasakan bau pesing

di pantai marunda, sungai ciliwung

dengan sampah yang mengapung

di kampung melayu napasku sesak

dihimpit perkampungan yang rapat

begitu pun manggarai,

yang tersisa hanya jalan tikus

dan aku layaknya curut got

di antara kemewahan kota;

jalan cendana, thamrin, senayan,

cikini, salemba, juga gambir

 

suatu kali aku singgah sekadar

karena tak sanggup hidup

dalam embusan pantai yang busuk

di penjaringan aku menetap. tak lama

hingga suatu masa rumahrumah di pinggir

pantai itu habis oleh api. “ada yang

sengaja membakar. dibakar. kebakaran

oleh api yang membesar. malam buta,”

cerita bibik yang hampir gila melihat

rumah dan isinya tak lagi tersisa

 

tapi itu dulu, sudah lama sekali

ketika jakarta amat menggiurkan

sebagai kota impian semua warga

jadi tujuan singgah semua bangsa

sebuah perjudian hidup manusia

kota yang dihuni jutaan keinginan

 

dan, 495 tahun kemudian

 

saat ini. apakah aku masih rindu

jakarta yang riuh dan padat

jakarta yang senantiasa datang

ke dalam mimpimimpiku, hingga

mengusir mimpiku yang lain:

bercumbu dengan kekasihku,

menghayal hidup yang sedikit

di atas melarat. memburu bis kota,

berdiri di halte sebelum bis tiba

lalu membayangkan perempuan betawi

semasa remaja di kemayoran; “apa kabar

oni? masih saja kau mengaku perempuan

ibukota, ketika sebentar lagi pindah

ke pulau borneo?”

 

kelak pun aku melupakanmu

seperti none itu, jakarta

hanya secuil wilayah di negeri

bernama indonesia

 

Lampung, 15 Maret 2022

 

 

KEBAYA IBU

ibu selalu berkebaya

biarpun di rumah saja

di dapur atau ketika

menyiapkan makanan

di meja untuk kami

mataku selalu tertuju

pada ibu entah kagum

atau sekadar menikmatii

paras ibu yang anggun

 

ibu dari dusun winduaji

cirebon. kata ayah, kebaya

dipakai ibu sejak remaja

cuma rambut tergerai

kecuali disanggul saat pesta

 

ibu bertemu ayah di jakarta

ayah tertarik pada ibu

bukan karena pandangan pertama

tapi sebab ibu berkebaya

 

ketika ibu meninggaln

kebaya ibu di almari

dibagibagi kepada empat

anak perempuan dan empat

menantunya. aku yakin

ibu suka kebayanya dipakai

oleh anakanaknya

 

“itu warisan ibu

tak hilang berganti

zaman,” kata ayah

 

mata ayah basah

setiap melihat kebaya

 

Lampung, Desember 2022

 

 

Isbedy Stiawan ZS, lahir di Tanjungkarang, Lampung, dan sampai kini masih menetap di kota kelahirannya. Ia menulis puisi, cerpen, dan esai juga karya jurnalistik. Dipublikasikan di berbagai media massa terbitan Jakarta dan daerah, seperti Kompas, Republika, Jawa Pos, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Media Indonesia, Tanjungpinang Pos, dan lain-lain.

Buku puisinya, Kini Aku Sudah Jadi Batu! masuk lima besar karya pilihan Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbud RI (2020), Tausiyah Ibu masuk 25 nomine Sayembara Buku Puisi 2020 Yayasan Hari Puisi Indonesia, dan Belok Kiri Jalan Terus ke Kota Tua dinobatkan sebagai lima besar buku puisi pilihan Tempo (2020).

Buku-buku puisi Isbedy lainnya, Menampar Angin, Aku Tandai Tahilalatmu, Kota Cahaya, Menuju Kota Lama (memenangi Buku Puisi Pilihan Hari Puisi Indonesia, tahun 2014): Di Alunalun Itu Ada Kalian, Kupukupu, dan Pelangi, dan Kau Kekasih Aku Kelasi (Siger Publisher, 2021), Masih Ada Jalan Lain Menuju Rumahmu (Siger Publisher, 2021), Tersebutlah Kisah Perempuan yang Menyingkap Langit (Teras Budaya, 2021), Buku Tipis untuk Kematian (basabasi, 2021), Mendaur Mimpi Puisi yang Hilang (Siger Publisher, 2022) dan Nuwo Badik, dari Percakapan dan Perjalanan (Siger Publisher, 2022).       

Kemudian, sejumlah buku cerpennya, yakni Perempuan Sunyi, Dawai Kembali Berdenting, Seandainya Kau Jadi Ikan, Perempuan di Rumah Panggung, Kau Mau Mengajakku ke Mana Malam ini? (Basabasi, 2018), dan Aku Betina Kau Perempuan (basabasi, 2020), Malaikat Turun di Malam Ramadan (Siger Publisher, 2021).

Isbedy pernah sebulan di Belanda pada 2015 yang kemudian melahirkan kumpulan puisi November Musim Dingin. Ia juga pernah menjelajah sejumlah negara di ASEAN, baik membaca puisi maupun sebagai pembicara. Beberapa kali menjadi juara lomba cipta puisi dan cerpen.

Proses kreatif Isbedy Stiawan ZS pun menyumbangkan ide dan menjadi tesis Pascasarjana atas nama Fitri Angraini di FKIP Universitas Lampung (Unila), kemudian terbit sebagai buku bertajuk Dunia Kreatif Isbedy Stiawan ZS (editor Maman S. Mahayana, Penerbit Aura Publisher). Media sosial: FB dan IG Isbedy Stiawan ZS

Tinggalkan Balasan