Puisi

Puisi Karya A.D. Kareem

Jejak Jejak Waktu dan Kehampaan

 

Ada jejak-jejak waktu yang kita tinggalkan.

Pada pasir yang tersibak/ pada ingatan yang tersimpan/

Pada tanah yang terkuak/ pada pendaman sebuah senyuman/

Dan cerita tentang kehampaan hilang tak berbekas ditelan rindu yang pungkas

 

Biarpun semua ‘tlah pula diketahui, kisah memang bukan milik akhir

Hanya sebuah permulaan belaka/ tunduk dan layu/ dan sesekali tersingkir

Di malam gelap, di cuaca mendung, di kelana tak bertepi, dan mimpi hadir

Esoknya, bersama matari, bab baru terbuka dan permulaan itu kembali dimulai

 

Cinta tidak dimulai pada sebuah awal

Ia hanyalah genangan yang tersimpan pada sebuah cikal

disembunyikan oleh waktu dan pertemuan yang enggan bergerak meski sejengkal

lantas, kemudian, awan tersibak pada terang, dan kau hanya tunduk pada agungnya

 

berhentilah, jangan maju lagi, tetapi kita tetap berjalan,

buta arah, tanpa keterangan, tiada penyuluh, namun kau tak henti melangkah

karena, begitu sebab deritanya, kau hanya mengikuti sebuah panggilan

dan kau terjerembab kadang, di lain waktu kau senang dan berkehidupan megah

 

tetapi waktu dan jejaknya, bukanlah tujuan kita

kita hanya para pengembara di pembuangan,

menapaki riak-riak yang kadang dangkal lain kali dalam

terhantuk pada dinding dan terjungkal pada lubang dalam

 

kita bangkit lagi, dan berpesta, bertapa, berdiam, bersuara, bercinta, menengadah

pada langit, berdoa, bersua dan berpisah.

 

Kita hanya para pengelana, tanpa bekal atau berkelimpahan

Atau pemusik yang bernyanyi untuk angin atau istana-istana megah

Atau penyair yang kesepian, meratap, dan menangis,

Dan ketika Isolde berhenti di hadapannya,

Ia lahir kembali sebagai Tristan dan mengayunkan pedang, menghalau kesepian dan

dukanya.

 

Tetapi, waktu hanya begitu-begitu saja.

Layarnya terkembang dari dulu hingga kini, menembus lubang-lubang hitam,

Mengitari galaksi-galaksi yang jauh, singgah pada bintang-bintang terang,

Berdiam agak lama pada nebula-nebula kesedihan.

Namun, manusia hanya bisa begitu juga. Jejaknya melintasi milyaran abad sejarah

semesta. Tetapi, hanya kepada cinta ia ingin kembali.

 

Waktu tak berarti. Ruang hanyalah tempat teriakan bergema dan memantulkan kembali

narasinya kepada sejarah di masa depan.

 

D kau dan aku, mengayuh perahu kita, dengan sesekali layar terkembang,

Menatap dan meminta petunjuk pada bintang-bintang, patuh kepada langit

Dan meminum embun, dan berselimutkan kehangatan tubuh kita saja.

Kita tak tahu ke mana akhirnya,

Apakah mati dalam kelaparan, hilang di belantara laut yang kejam

Atau tersungkur ke dalam palung samudera yang hitam

 

Kita hanya ingin meninggalkan jejak pada waktu, atau hanya sekadar kehampaan belaka.

Tetapi, cinta tak membutuhkan penghargaan dan pengutukan.

Ia hanya cinta, hanya sebuah cinta,

Dan kepadanyalah kita pergi dan kepadanyalah kita kan kembali.

Lain waktu, ketika semuanya usai, penyesalan bukanlah sebuah pilihan

Ia hanya sebuah cerita saja.

 

Tetapi mencintaimu, adalah pelayaran demi sebuah keabadian,

Seabadi Gilgamesh dan kisahnya,

Seabadi Iliad dan kemurungannya

Seabadi Lebanon dan teriknya.

 

Hanya dengan cinta, hanya kepada cinta, hanya untuk cinta.

Setelah itu pejamkanlah matamu, kekasih.

Aku hanya ingin bersamamu. Mati dan hidup, sudah tak penting lagi.

 

9 Mei 2018

 

A.D. Kareem (Febrian) lahir di Pekanbaru, 11 Februari. Ingin menjadi penulis, dan untuk bisa menulis, agar yang tertulis bisa dibaca, dan kembali dituliskan. Ia dapat dihubungi via Instagram (IG): d.mahaksara.

 

 

Tinggalkan Balasan