Naskah Drama

Gerbang Bola Api 

Naskah Drama Karya Didik Wahyudi

 

  1. PRAPENTAS

 

PADA MULANYA DAN SAMPAI BAGIAN INI BERAKHIR:

SIARAN RADIO, ISINYA:

 

  1. MUSIK KERONCONG DAN KOOR ANAK-ANAK MEMAINKAN LAGU “SERUMPUN PADI” KARYA R. MALADI.

 

  1. PEMBACAAN SURAT CINTA DARI SESEORANG BERNAMA DEBORAH UNTUK SESEORANG BERNAMA MAS JAYUS DALAM BAHASA DAERAH TEMPAT NASKAH INI DIPENTASKAN.

 

RADIO TERUS BERPINDAH-PINDAH GELOMBANG DENGAN VOLUME YANG TIMBUL TENGGELAM HINGGA BAGIAN INI BERAKHIR.

 

DATANG KEMUDIAN SECARA BERURUTAN DAN TAK PERNAH PERGI HINGGA BAGIAN INI BERAKHIR:

 

ORANG MENGEPEL LANTAI DENGAN MATA.

 

ORANG MENGECAT DINDING TANPA KUAS.

 

ORANG MEMBERSIHKAN JENDELA DENGAN DADA.

 

GHAIB:

Test! Test! Test! Satu dua tiga, dicoba. Test. Huffffh! Huffffh! Test! Pengumuman kepada seluruh warga…. Test! Test! Huffffh! Test! Kepada seluruh warga…. Huffffh! Test! Test! Benerin, dong, speakernya. Benerin. Huffffh! Test! Test!

 

SEORANG TUKANG BAKSO DAN SEORANG TUKANG SIOMAI BERKELILING TANPA GEROBAK. PANCI DI PUNGGUNG. TUTUP PANCI DI KEPALA.

 

 

  1. PENTAS

 

  1. DUNIA BARU JADI

 

KABUT DI MANA-MANA

 

MANUSIA 1:

Ganti saja pakai briket. Rantang kosong minta diisi ayam. Ganti saja. Seperti tak ada hujan dalam telinganya. Seratus kali dikatakan. Seratus kali jadi uap. Uap! Ganti saja pakai briket.

 

MANUSIA 2:

Jangan main serobot, dong. Idih. Beraninya minta bapak.

 

“Bapak, bapak, itu! Bapak, bapak, ini!” Idih. Beginilah nasib.

 

Dulu sih kita juga punya bapak. Biasa kita naik-naik ke bukit. Sekarang pada sok semuanya. Main pencet sok eksklusif. Kita dianggap apa? Idih.

 

“Bapak, bapak, itu! Bapak, bapak, ini!” Beginilah nasib.

 

MANUSIA 1:

Briket! Ganti! Briket! Ganti!

 

MANUSIA 2:

Mau ganti jadi apa? Idih. Dulu kuda sekarang kebo. Idih. Mau naikin kebo? Idih.

 

(MELAMUN)

 

Bukit sekarang sudah sebesar apa, ya? Bukit, bukit. Indah betul kalau dikenang. Beginilah nasib.

 

MANUSIA 1:

Briket. Orang nikah selepas beduk. Ganti apa pakai briket. Ya,Tuhan. Sirine pukul sebelas. Telinga jadi got mampet. Mau jual kuitansi ke tukang loak, hah?

 

MANUSIA 3:

Kamu iri, ya? Sakit hati? Belajar dulu sana. Nanti kalau sudah melek peta baru komentar. Iri, ya? Sakit hati?

 

MANUSIA 2:

Kita dong dikasih. Kasih paham juga enggak. Maunya apa sih?

 

MANUSIA 3:

Para pesorak mainan briket, ya? Makan briket? Kalau gak kuat mending buruan ditulis wasiatnya. Mau diajarin bikin wasiat?

 

GHAIB:

Test! Test! Hufff! Hufff! Test! Sudah lumayan ini, cuma kurang kenceng. Hufff!

 

 

  1. BERMAIN LABA-LABA

 

WA 1 DIHUNI OLEH MANUSIA 1 DAN KEBUN COKLAT.

 

(CHAT OBROLAN’ DENGAN APLIKASI Whatsapp)

 

KEBUN COKLAT:

Benteng besar warna hijau. Parkir saja di situ. Tukang angkut di mana-mana.

 

MANUSIA 1:

Siap. Parkir di sana. Siap. (Ah, tukang angkut?)

 

KEBUN COKLAT:

Jangan coba-coba bunuh diri. Bonus kemas. Kita harus menang. Harus puas.

 

MANUSIA 1:

Kita mengerti. Bonus sudah dijumlahkan. Tukang angkut. Ada di mana-mana. Kami butuh tangga.

 

KEBUN COKLAT:

Bodoh! Urusan kamu. Bodoh. Tukang angkut atau batal!

 

MANUSIA 1:

Siap. Ini bodoh. Kami siap makan angin. Siap. Maju jalan. Maju jalan. Maju jalan.

 

KEBUN COKLAT:

Gitu, dong. Jangan main di sungai terus. Berjemur biar kering. Dah!

 

WA-2 DIHUNI OLEH MANUSIA-2 DAN GUNUNG

 

(TELEPON)

 

GUNUNG:

Seekor burung dara terbang cepat dari plaza kidul ke makam raja, boleh dong.

 

MANUSIA 2:

Boleh, Bos. Burung dara seekor segera diterbangkan.

 

GUNUNG:

Kirim yang onderdil bagus. Jangan bikin susah pohon mangga. Mau gagal penen lagi?

 

MANUSIA 2:

Pohon mangga adalah prioritas kami, Bos. Onderdil kuat. Aman. Terbang lekas anti macet.

 

GUNUNG:

Coba bernyanyi.

 

MANUSIA 2:

Baik, Bos, bernyanyi.

 

GUNUNG:

Coba menari.

 

MANUSIA 2:

Baik, Bos, menari.

 

GUNUNG:

Coba menungging.

 

MANUSIA 2:

Baik, Bos, kami menungging.

 

GUNUNG:

Burung dara!

 

MANUSIA 2:

Harga mati!

 

GUNUNG:

Burung dara!

 

MANUSIA 2:

Harga mati!

 

GUNUNG:

Selamat bertugas!

 

KOOR LAGU MAJU TAK GENTAR DALAM TEMPO LAMBAT.

 

TWITER DIHUNI OLEH MANUSIA 3 DAN ELANG JAWA

 

(PERDEBATAN)

 

ELANG JAWA:

Maju, maju, maju. Ikat terus jangan lepas. Pohon satu. Kepala satu. Air satu. Pipa. Mesin jahit. Ayo, maju, maju, maju.

 

MANUSIA 3:

Musim panas nih! Sungainya lancar. Bening. Mandi, mandi, mandi. Minum, minum, minum. 😂

 

ELANG JAWA:

Eh, batu. Dulu makan lumut. Sekarang bikin deh. Tetap maju saja. Maju saja. Batu bikin lumut. Lumut bikin basah.

 

MANUSIA 3:

Kayu besi, nih. Gede banget masuknya.

 

ELANG JAWA:

😡

 

MANUSIA 3:

Berapa sih harga tisu, bestie? Butuh kapal, kami siapkan.

 

ELANG JAWA:

😡

 

MANUSIA 3:

😂😂😂

 

GHAIB:

Kenceng banget. Test! Test! Desibel sesuaikan! Sesuaikan! Hufft! Hufft! Busyet, kenceng banget. Desibel, Rin. Desibel. Hufft!

 

 

  1. BELAJAR BERHARAP

 

TIGA BUAH BANGKU UNTUK TIGA ORANG: TUKANG PEL, TUKANG CAT, DAN TUKANG JENDELA.

 

TIKTOK:

Ada sebuah tempat, ini indah sekali.

 

TUKANG PEL:

Ya, indah sekali.

 

TUKANG CAT:

Pergi dari rumah tidak sia-sia.

 

TUKANG JENDELA:

Itulah cita-cita.

 

TIKTOK:

Dan kebun jagung.

 

TUKANG PEL:

Selalu siap untuk dipanen.

 

TUKANG CAT:

Festival jagung setiap tahun.

 

TUKANG JENDELA:

Festival tertawa setiap tahun.

 

TUKANG PEL:

Obat-obatan untuk influenza aman.

 

TUKANG PEL, TUKANG CAT, TUKANG JENDELA:

Keadilan sosial bagi seluruh….

 

GHAIB:

Test! Test! Saat ini kita sudah sampai di… Kurang kenceng ini, kurang! Test! Kita sudah tiba…. Rin! Rin! Kurang ini, kurang. Kurang kenceng!

 

TIKTOK:

Hore!

 

TUKANG PEL, TUKANG CAT, TUKANG JENDELA (SERENTAK):

Hoooo…… Reee…..

 

TIKTOK:

Hore!

 

TUKANG PEL, TUKANG CAT, TUKANG JENDELA:

Hoooo…… Reee…..

 

GHAIB:

Rin! Birin! Kurang! Kurang kenceng!

 

YOUTUBE:

Assalamu’alaikum. Hallo pemirsa.

 

Kami hadir kembali di hadapan kalian.

 

Dan sebagai pembuka pertemuan kali ini akan kami persembahkan sebuah puisi bagi yang lama menahan kepedihan:

 

“Sebuah tali mari diulur

Siapa memegang akan bersayap

Siapa bersayap akan melambung

Siapa melambung akan menyerang

Tidak kembali selain Syuhada tulen”.

 

Nah, kita mulai saja perbincangan akhir pekan edisi kali ini bersama nara sumber kita, penulis buku best seller berjudul “Panduan Bertepuk Tangan”.

 

Tepuk tangan!

 

TIKTOK:

Hore!

 

TUKANG PEL, TUKANG CAT, TUKANG JENDELA (SERENTAK):

Hoooo…… Reee…..

 

TIKTOK:

Hore!

 

TUKANG PEL, TUKANG CAT, TUKANG JENDELA (SERENTAK):

Hoooo…… Reee…..

 

GHAIB:

Rin! Birin! Kurang! Kurang kenceng!

 

 

  1. JAM ISTIRAHAT

 

MANUSIA SINGKONG:

Mimpikah diriku melihat dirimu?

 

MANUSIA GABAH:

Mimpikah diriku melihat dirimu?

 

MANUSIA AREN:

Mimpikah diriku melihat dirimu?

 

MANUSIA SINGKONG:

Kau bukan dirimu lagi. Kau bukan yang dulu lagi. Wah!

 

MANUSIA GABAH:

Kau bukan dirimu lagi. Kau bukan yang dulu lagi. Wah!

 

MANUSIA AREN:

Kau bukan dirimu lagi. Kau bukan yang dulu lagi. Wah!

 

MANUSIA 2:

Masih begini saja saya mah.

 

MANUSIA SINGKONG, JERAMI, AREN:

Wah! Begini saja katanya!

 

MANUSIA 1:

Baju murahan ini sih. Biasa-biasa saja.

 

MANUSIA SINGKONG, JERAMI, AREN:

Wah! Baju biasa-biasa saja katanya!

 

MANUSIA 2:

Iya kita sih tampil sesuai acaranya gitu.  Kalau lagi santai ya begini memang. Jam murahan kok ini.

 

MANUSIA SINGKONG, JERAMI, AREN:

Wah! Jam murahan katanya!

 

MANUSIA 1:

Kalau tas memang agak lain. Tapi semua orang bisa kok beli yang begini. Bisa.

 

MANUSIA SINGKONG, JERAMI, AREN:

Hmmmm! Hmmmm!

 

MANUSIA 2:

Kita mau jalan lagi ini. Maklum waktu yang lewat belum diatasi oleh teknologi. Sampai jumpa.

 

MANUSIA SINGKONG, JERAMI, AREN:

Tuanku beli waktu!

Tuanku beli waktu!

Tuanku jual waktu!

 

MANUSIA 1:

Saya juga mau pamit. Ada peresmian. Sedikit pidato. Sambutan ketua dewan.

 

MANUSIA SINGKONG, JERAMI, AREN:

Tuan ketua dewan!

Tuan ketua dewan!

Tuan mau sambutan!

 

MANUSIA 3:

Sudut pandang adalah kunci. Tak akan bertemu kalau tak pernah jadi diriku. Hebat. Bawah. Atas. Kanan. Kiri. Yang kita butuhkan adalah mata yang sehat. Mata yang melihat ke balik dinding. Oh,  puncak GUNUNG! Oh, masa depan. Tulis! Kejar! Up!

 

Up!

 

Up!

 

Cegat di pintu masuk!

 

Bandara sekarang!

 

Rosi! Up!

 

Wicak! Up!

 

Rosi! Up!

 

Wicak! Up!

 

Kita break!

 

 

  1. KELAS KESETIAKAWANAN

 

(SI) BAJU MERAH:

Mari kita lihat.

Mari kita lihat.

Mari kita lihat.

 

MANUSIA 4:

Sudah lama sekali saya ingin melakukannya dan baru sekarang bisa terwujud. Kalian suka? Ya, terlalu banyak waktu untuk keluar jadi lupa pada kampung sendiri. Lihat, kalian suka? Tadinya agak pesimis, tetapi akhirnya bisa juga. Kalian suka? Orang-orang di sini baik dan ramah. Mereka sangat membantu. Saya baru pertama kali tahu semua ini. Ini foto saya sendiri. Kalian suka? Saya suka sekali. Saya bilang pada beberapa orang kalau saja karya ini bisa dilelang untuk membantu sesama pasti menyenangkan. Kalian suka? Nanti aku kasih alamat dan caranya belajar di sini. Kalian pasti suka.

 

(SI) BAJU MERAH:

Nah, sudah.

Nah, sudah.

Nah, sudah.

Sekarang kita lihat.

Mari kita lihat.

Nah, sudah. Nah, sekarang. Nah, mari kita lihat. Nah, sudah. Nah, sekarang. Mari kita lihat.

 

MANUSIA 5:

Saya benar-benar tak habis pikir. Kenapa tidak mau sedikit saja berpikir? Plastik, lho. Plastik! Mereka sama seperti kita. Mereka berhak untuk disayang. Kasihan. Makhluk yang malang. Coba bayangkan kalau hal itu terjadi pada adik atau anak-anak kalian. Mereka pasti sangat menderita. Untung ada orang-orang baik. Kasihan. Makhluk yang malang. Makhluk yang malang. Saya benar-benar menangis ini. Jangan pernah meremehkan makhluk ciptaan Tuhan. Oh, tekad saya semakin kuat untuk melindungi mereka. Dan, untuk itulah semua ini saya bangun. Semoga kalian bisa mampir suatu saat. Dan, melihat bagaimana kami memelihara kehidupan. Nah, lihat, sudah hampir seratus persen. Kalian suka?

 

(SI) BAJU MERAH:

Nah, sudah.

Bagaimana? Kalian suka?

Nah, bagaimana? Kalian suka?

Mari kita lihat. Mari kita lihat.

 

Kita lihat sekarang.

 

Sekarang saya minta maaf. Saya minta maaf. Saya minta maaf.

 

Teman-teman sekalian. Saya minta maaf.

 

Ibu ABC. Bapak DEF.

 

Tuan pengacara.

 

Saudara-saudara.

 

Saya minta maaf. Saya minta maaf karena saya. Karena saya telah. Telah melakukan sesuatu yang. Berdasarkan penilaian para tuan.

 

Saya minta maaf atas kesadaran. Saya yang bersalah. Telah merugikan. Telah merugikan. Teman-teman. Teman-teman. Teman-teman.

 

 

III. PASCAPENTAS

 

DUA MINGGU SETELAH PEMENTASAN, KELOMPOK TEATER YANG MEMAINKAN NASKAH INI MENGIRIMKAN SURAT KEPADA PARA PENONTON:

 

Dear penonton “Gerbang Bola Api”,

Pentas memang telah selesai. Dan surat ini bukanlah bagian pentas. Bukan bagian pertunjukan. Surat ini dikirimkan semata-mata karena ia ada di dalam naskah dan kami wajib menunaikannya. Bukankah sutradara yang baik adalah yang taat kepada petunjuk naskah?

 

Penonton yang budiman,

Sesungguhnya tidak semua penonton menerima surat ini. Tiga belas penonton yang menerima surat ini tidak membuatnya berbeda dengan penonton lainnya, kecuali bahwa mereka mendapatkan surat ini. Selain itu, bukanlah tidak ada jaminan bahwa surat ini tidak berisi kebohongan-kebohongan?

 

Penonton yang budiman,

Surat ini tidaklah menuntut kerahasiaan, memang. Meskipun begitu, sungguh, ia amat senang apabila dirahasiakan.

 

Penonton yang budiman,

Surat ini adalah uluran tangan yang ingin menyalakan kembali api dalam dada penonton yang mungkin telah meredup. Tak ada niat untuk berhasil, memang. Namun, tak ada pula niat untuk sama sekali gagal. Berhasil atau gagal sesungguhnya ada di tangan para penonton yang budiman, dan keberuntungan.

 

Kami senang bila pertunjukan kami membuat para penonton senang. Dan kami mohon maaf bila pertunjukan kami mengecewakan. Tanpa mengurangi rasa hormat kami atas interpretasi para penonton, izinkan kami menyampaikan beberapa hal terkait pertunjukan:

 

(CATATAN TENTANG PROSES KREATIF PERTUNJUKAN DITULIS-SISIPKAN KE DALAM SURAT INI OLEH SUTRADARA DAN PARA AKTOR).

 

Para penonton yang budiman,

Bila pada bagian akhir pertunjukan ini para penonton yang budiman melihat para penari remo sesungguhnya hal tersebut tidak lazim. Pada naskah, bagian terakhir sandiwara ini hanya berisi tiga monolog dari tiga orang pemain yang di dalam naskah ditandai dengan nama (SI) BAJU MERAH, MANUSIA-4, dan MANUSIA5. Petunjuk mengenai para penari remo itu justru terdapat di dalam surat ini.

 

Saat menyusun bagian akhir naskah pertunjukan ini penulis merasakan adanya ketidakberesan (dalam menulis naskah, anda tahu, penulis tidak hanya berpikir, tetapi juga banyak merasakan). Draft awal bagian tersebut tidak terdiri dari tiga, melainkan empat monolog dan satu pembacaan puisi. Keempat monolog tersebut diperankan oleh tokoh yang ditandai sebagai (SI) BAJU MERAH, MANUSIA-4, MANUSIA-5, dan ISTRI PENYAIR (tetapi tetap ingatlah bahwa tidak ada jaminan bahwa surat ini tidak berisi kepalsuan-kepalsuan). Selain itu, ada juga tokoh PENYAIR yang muncul membacakan puisinya.

 

Namun, penonton yang budiman, demikianlah. Kehadiran tokoh ISTRI PENYAIR dan PENYAIR pada bagian tersebut rupanya telah mengambil simpati penulis. Penulis (mungkin karena si penulis juga seorang PENYAIR) merasa terlampau berpihak kepada kedua tokoh tersebut.  Sehingga naskah tersebut terasa tak mungkin lagi memiliki masa depan. Penulis percaya sebuah tulisan hanya memiliki masa depan bila penulis tidak memihak. Penulis akhirnya menutup naskah itu sekaligus menghilangkan peran kedua tokoh tersebut. Dan, sebagai tanda persahabatan yang dilandasi oleh ketulusan, kepada para penonton yang budiman, berikut ini (atas izin penulis) kami hadirkan monolog dan puisi yang terhapus dari bagian akhir pertunjukan tersebut:

 

RADIO:

Kami sama-sama bau kencur. Kami penuh semangat. Apa itu dunia? Kami menikmati semuanya. Aduhai. Saat pertunjukan berakhir dan penonton memberikan tepukan dunia seakan dipenuhi oleh cahaya. Dan setelah itu, ya, kami kembali seperti biasa. Oh, ya. Ada satu karya puisi suami saya yang paling saya suka. Dia menulisnya karena merasa kasihan melihat kehidupan kami di balik layar. Padahal saya kan tahu dia cuma mau merebut hati saya. Soalnya dia sendiri tahu kami lebih banyak tertawa ketimbang menangis. Nah, ini saya bacakan untuk teman-teman puisi suami saya:

 

Perias Wajah

 

Diubahnya wajah nestapaku

Jadi paras seorang ratu

Ratu yang mendiami taman kaputren

bersama si emban

Dan yang menaruh hati pada si lanang

 

Dulu dipungutnya ia dari sungai

Hingga si bocah baik nasabnya

Dan tumbuh sehat sebagai kesatria

 

Suatu hari telah melambai

sang Raja untuk pergi berburu

Dan di hari petang akan kembali

sebagai sebatang kayu

 

Mereka bersedih secukupnya

berduka sepantasnya

Si lanang mendapatkan kasur

Si ratu menaiki tahtanya

Semua orang bersuka ria

 

Kelak, Tuanku, setelah racun si emban menggerogoti perutnya, pentas ini pun

akan berakhir. Dan air mataku

adalah sepasang sunyi

yang mula-mula menguliti paesanku.

 

PENYAIR:

Perias Wajah

 

Diubahnya wajah nestapaku

Jadi paras seorang ratu

Ratu yang mendiami taman kaputren

bersama si emban

Dan yang menaruh hati pada si lanang

 

Dulu dipungutnya ia dari sungai

Hingga si bocah baik nasabnya

Dan tumbuh sehat sebagai kesatria

 

Suatu hari telah melambai

sang Raja untuk pergi berburu

Dan di hari petang akan kembali

sebagai sebatang kayu

 

Mereka bersedih secukupnya

berduka sepantasnya

Si lanang mendapatkan kasur

Si ratu menaiki tahtanya

Semua orang bersuka ria

 

Kelak, Tuanku, setelah racun si emban menggerogoti perutnya, pentas ini pun

akan berakhir. Dan air mataku

adalah sepasang sunyi

yang mula-mula menguliti paesanku.

 

Jadi, para penonton yang arif dan budiman, para penari remo itu sejatinya merupakan petilasan. Petilasan yang informasinya ditemukan di masa setelah pentas, di dalam surat persahabatan ini. Ia dilahirkan masa lalu, diambil dari masa depan. Tetapi mengapa tari remo yang digunakan untuk menggantikan ketidakhadiran puisi tersebut? Hal itu pastilah terjadi karena kesalahan tafsir yang dilakukan oleh saya, sutradara.

 

Salam hangat persaudaraan,

Teater….

 

NB:

Penulis yang melarang namanya disebutkan di dalam surat ini berharap bisa menyusun sebuah naskah lanjutan untuk naskah pertunjukan ini. Kelak, bila naskah itu benar-benar ada, akan ditambahkan angka dua di belakang judulnya. Dan, sebelum hal itu benar-benar terjadi, naskah ini belum bisa ditulis sebagai yang kesatu.

 

(2022)

 

CATATAN:

 

  1. Daftar aplikasi yang dimaksudkan dalam naskah ini, yakni:

Whatsapp (WA), YOUTUBE, Twitter, dan TIKTOK.

 

  1. Daftar aplikasi sebagaimana dimaksudkan pada catatan di atas dapat diubah sewaktu-waktu sesuai perubahan aplikasi yang dimaksud.

 

  1. Janganlah menggunakan foto GUNUNG di Indonesia untuk foto profil tokoh “GUNUNG”. Jangan pula GUNUNG bersalju. Adakah alasannya? Tidak. Mengapa tidak ada? Pastilah karena kita terbiasa menerima perintah tanpa alasan pula.

 

  1. Twit tokoh “MANUSIA 3” disukai oleh 98 akun dan ditwit ulang oleh 28 akun. Salah satu akun yang menyukai adalah akun milik MANUSIA 2.

 

  1. Sejumlah hal tentang surat Deborah:

-Surat Deborah kepada Jayus dibacakan di radio satu bulan sebelum pernikahan Deborah dan Wilis. Deborah tidak menyangkal bahwa ia masih mencintai Jayus dan mungkin akan sering merindukannya. Tetapi ia juga tidak menyangkal bahwa, meskipun Wilis adalah lelaki pilihan orang tuanya untuknya, dia akan menerima Wilis dengan hati mantap seperti dulu ia menerima Jayus sebagai kekasihnya. Deborah banyak menuliskan nasehat untuk Jayus. Ia berharap Jayus dapat memperbaiki dirinya. Deborah mengingatkan Jayus agar menjadi sosok yang disiplin dan menjaga kebersihan rambut dan kuku.

 

-Surat Deborah kepada Jayus bisa disusun oleh siapa saja yang bersedia menyusunnya.

 

-Satu setengah tahun setelah pernikahan Deborah dan Wilis, secara kebetulan mereka berada dalam satu kunjungan museum yang sama dengan Jayus. Mereka, Jayus dan Deborah, tidak bertemu, tentu saja. Ada seseorang yang selalu menghalangi pandangan mereka: Ibu Deborah.

 

-Tokoh Jayus dan Wilis memiliki perbedaan ciri-ciri di setiap daerah. Setiap daerah pastilah memiliki Jayus dan Wilis-nya sendiri-sendiri. Jayus di Indramayu mungkin seorang anggota balap motor liar. Tetapi Jayus di Kuala Lumpur barangkali seorang pengangkut barang di pasar tradisional. Begitu juga dengan si manis Wilis. Penampilannya yang menarik bagi para orang tua telah menimbulkan kecemasan sosial di kalangan anak muda. Oleh sebab itu Wilis dihukum oleh sangkaan buruk sebagai musang berbulu domba. Setiap masyarakat ada Wilisnya. Setiap Wilis ada masyarakatnya.

 

Didik Wahyudi lahir di Surabaya, Jawa Timur. Karya-karyanya berupa cerpen dan puisi dimuat di berbagai media massa, baik lokal maupun nasional, diantaranya Majalah Kidung, Majalah Kalimas, Republika, Detik.com, Koran Tempo, dan Kompas. Buku puisinya berjudul Pelajaran Bertahan (2019). Ia aktif di komunitas “Keluarga Padusan”. Saat ini ia tinggal di Surabaya dan dapat dihubungi melalui posel: okwedangkopi@gmail.com

 

Tinggalkan Balasan