Cerpen

Ketika Lampu Dipadamkan

Karya: Adi Zamzam

Deretan kursi tamu undangan ternyata sudah hampir penuh terisi oleh beberapa camat, kepala desa, dan para staf pegawai Kabupaten yang kukenal maupun tidak. Aku bahkan melihat seorang kepala desa yang letak desanya paling terpencil di wilayah Kabupaten ini. Aku ingat betul wajahnya, lantaran baru tiga hari lalu kuresmikan masjid yang dana pembangunannya juga minta dariku. Aku coba mengenali beberapa wajah meski penglihatanku tak begitu baik dalam remang malam. Banyak masyarakat sekitar yang malah duduk lesehan di tepi kursi undangan dan pinggiran jalan.
Beberapa orang coba menyalami. Kusuguhkan senyum basa-basi. Kenal maupun tak kenal. Pun ketika Ki Dalang Ulin yang sedang naik daun ini menghampiri dan membisikiku.
“Lakon yang dipesan tetap seperti kemarin itu nggih, Pak?”
Aku mengangguk, “Pokoknya njenengan yang mengondisikan.”
Dhalang ganteng yang juga digandrungi para cewek ABG itu mengacungkan jempol sebelum munuju posisi. Keramaian penonton sedikit mereda oleh gladiresik para sinden yang menjadi pembuka pertunjukan. Mereka juga masih muda-muda, sama seperti dhalangnya yang baru berumur dua puluhan,
Ada yang merambat aneh dalam dadaku ketika sang dhalang memamerkan antawacana nya yang matang. Suara gending memenuhi udara malam itu.

* * *

Istri, anak, serta cucu-cucuku kulihat gembira. Tentu saja, lantaran tontonan ini kuhadirkan sebagai tanda syukur atas keberhasilan mempertahankan kembali jabatan yang hampir saja lepas setelah arena pemilihan umum yang penuh trik dan intrik memuakkan. Belum lagi segala macam isu yang bikin gatal telinga. Tontonan ini ibarat napas lega kami setelah hampir setahun kepala dan dada disesaki segala macam siasat dan perhitungan.
Ketika lampu-lampu mulai dipadamkan aku merasa seperti tengah memasuki sebuah dunia baru. Aku tak menyangka ketika ternyata semua cahaya juga ikut padam dan hanya menyisakan blencong
Ketika kutengok sekeliling ternyata semua orang juga turut lenyap seolah ditelan kegelapan. Hanya menyisakan sosok Petruk di muka geber. Aku semakin kebingungan tatkala si Petruk tiba-tiba berjalan ke arahku, suara dhalang lenyap begitu saja, dan kutemukan diriku dalam keadaan beku. Petruk berwajah diriku!
“Kenapa mesti takut? Apa kau tak lihat? Aku adalah dirimu sendiri,” ujar si Petruk sebelum aku melempar sebuah tanya yang sudah ia jawab.
Aku masih setengah percaya ketika mendapati kenyataan diriku yang tengah menghadapi diriku. Diriku yang berpenampilan Petruk, lengkap dengan hidung mancungnya yang khas itu.
“Apa kau pikir kekuasaan itu adalah sebuah anugerah, yang dengannya kemudian kamu merasa telah terberkati sehingga bebas memanfaatkannya untuk apa saja?”
Dia ini entah ngomong apa. Ingin kubantah tuduhan itu. Tapi si Petruk kemudian menudingku lagi, “Apa kau lupa, ketika Jimat Kalimasada yang dititipkan kepadamu kau gunakan untuk menaklukkan Sanyowibowo dan membuat banyak keonaran di sekelilingnya?”
Ia menudingku seolah-olah justru akulah si Petruk. Ketika kuraba hidungku— memanjang! Sepertinya aku memang telah berubah menjadi Petruk! Membuatku seketika ingin teriak dan mengumpat.
Tidak, tidak, ilusi ini harus dilawan! Tapi tubuhku seolah tengah tertancap pada sesuatu!
“Kau merasa teraniaya ketika menjadi jongos. Dan sekarang kau berencana membalas dendam kepada masa lalumu yang kelam, mengambil semua keuntungan yang kiranya bisa diambil, tanpa peduli cara. Dasar Petruk!”
Aku berhasil membuka mulut. Namun tak sekalimat pun berhasil kukeluarkan sebagai bantahan.
Aku merasa tak berkutik dan sia-sia belaka. Untungnya selang beberapa detik kemudian listrik tiba-tiba kembali menyala, sosok Petruk yang menyaru diriku lenyap, dan kudapati hidungku kembali normal.
“Apa tadi listriknya padam?” bisikku kepada istri yang duduk di sisi kiri.
“Iya. Tapi cuma satu menitan. Mungkin gangguan angin atau apa,” jawabnya tanpa menoleh. Permainan dhalang sudah hampir sampai pada klimaks pertikaian.
“Ah, masa?” sahutku spontan. Yang kurasakan tadi jelas lama sekali.
Istriku menoleh. Dahinya mengernyit. Lalu aku mengerti, ia tidak berbohong. Dan lalu aku berpikir, kejadian macam apa yang sebenarnya terjadi denganku tadi.
Aku menyuruh seseorang untuk mengawasi bagian kelistrikan. Ketika orang suruhanku tadi memberikan isyarat perihal bagian listrik yang sudah diawasi, aku pun mencoba khusyuk kembali ke pertunjukan. Lakon masih setengah cerita. Kantuk pun belum berani menghampiri. Apalagi setelah kejadian aneh tadi.
Tapi, duh, berselang beberapa detik kemudian tiba-tiba saja listrik padam lagi! Aku coba memanggil istriku. Anehnya tak kudengar suara apa pun, meski kemudian aku coba mengulanginya berkali-kali! Tubuhku bahkan tak bisa kugerakkan ketika coba bangkit guna mengecek ke bagian kelistrikan. Kejadian aneh itu terjadi lagi!
Aku hampir saja menjerit ketika tubuhku tiba-tiba terangkat oleh sebuah kekuatan gaib. Mengarah atau entah diarahkan ke sebuah arena pertemuan. Ada sosok lain di depan sana, yang entah siapa. Kami berhadap-hadapan. Sepertinya kami dalam kondisi serupa.
Aku ingin bertanya siapa dia. Tapi mulutku masih juga belum bisa mengeluarkan suara apa-apa. Aku berharap sosok dihadapanku itu juga mengeluarkan suara. Suara apa saja—yang kiranya bisa memperjelas posisi kami, di mana kami, mengapa bisa terjadi seperti ini, dan atau setidaknya berteriak minta pertolongan kepada siapa saja.
Tak lama berselang kurasakan tubuhku meluncur ke depan—atau entah diluncurkan, dengan kecepatan kemarahan. Aku berteriak tatkala bertabrakan dengan sosok yang berada tak jauh di hadapanku tadi. Tapi tak ada suara. Tak ada teriakan dari seberang sana. Hanya ada…
“Dhuel… jabang bayi…” suara itu seperti menggema dari langit.
Aku sempat mendengar samar-samar suara riuh keramaian. Samar-samar sekali, seperti campuran tawa, seloroh komentar, umpatan, dan entah apa lagi. Tapi entah dari mana sumbernya. Pandanganku hanya mampu menjangkau layar putih dan seseorang yang tiba-tiba saja menyerangku tadi.
Musuh? Oh, tidak, atas dasar apa ia memusuhiku? Aku memang memiliki banyak ‘musuh’—selama masa kampanye kemarin. Tapi itu kan seharusnya sudah dianggap selesai? Lagipula, mana mungkin dia berani mengajakku duel…
Ia menyerangku lagi! Sebuah pukulan berhasil mengenai dada. Aku terjengkang. Aku bergegas bangkit sebelum ia semakin membabi buta. Entah bagaimana, sebuah kekuatan tiba-tiba mengangkatku—melesatkan sebuah pukulan telak yang balas menghantam dadanya.
“Siapa kamu?” tanyaku marah. Ia terlihat bergegas bangkit. Kami berdua dalam posisi siaga.
“Siapa kamu?! Apa maumu?!” kuulangi lagi. Dan masih tanpa jawab. Hingga kemudian membuatku berpikir; jangan-jangan suaraku tidak terdengar. Jangan-jangan suaraku hanya bergema di dalam dadaku sendiri?
Belum selesai pikiranku mencerna semua, musuhku itu sudah mulai bergerak—menyerang lagi. Sebuah tendangan membuatku tersungkur. Aku ingin bangkit—tentu saja niat membalas. Apalagi aku merasa dalam keadaan prima untuk sekadar berkelahi. Tapi sudah kuduga sebelumnya, tubuhku tak bisa kukendalikan. Tubuhku bukan milikku lagi!
Dalam keadaan tersungkur itu aku melihat dia mendekat dengan congkaknya. Dalam kondisi siraman cahaya yang cukup, akhirnya aku pun bisa melihat rupanya. Biyung Semar!
“Ada apa ini?! Aku tidak mau menjadi wayang!” teriakku, di hadapan Semar.
“Kamu itu Petruk, kamu itu anakku. Meskipun kau mengaku sebagai Prabu Belgeduwelbeh Tongtongsot, atau Prabu siapapun, kau tetap anakku,” sahut sosok Semar di hadapanku.
“Aku manusia, bukan wayang. Aku seorang bupati! Kamu pasti demit!” bentakku. Tentu saja aku hafal dengan lakon Petruk Dadi Ratu. Prabu Yudhistira sebenarnya hanya berniat menitipkan Jimat Kalimasadha, yang kemudian justru disalahgunakan Petruk untuk menaklukkan Kerajaan Sanyowibowo. Wayang berhidung mancung itu kemudian menahbiskan diri sebagai Prabu Belgeduwelbeh Tongtongsot.
Semar tertawa. “Kalau kau manusia, kenapa tak kau pakai akalmu?”
“Tidak pakai akal bagaimana maksudmu?” tanyaku.
“Bukankah Jimat Kalimasadha sebenarnya hanya dititipkan kepadamu?”
“Aku bukan Petruk!” tegasku sekali lagi. “Kamu pasti demit!”
“MasyaAllah… tobat, Le. Tobat…”
“Tobat apa? Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Petruk!”
“Kau telah menyalahgunakan kekuasaanmu…”
Saat lampu tiba-tiba menyala lagi, nyawaku seperti baru saja dikembalikan ke tubuhku yang sebenarnya. Di hadapanku masih digelar pertunjukan wayang kulit. Di kanan kiriku, istri dan anak-anakku juga masih setia menemani menonton pertunjukan itu. Semuanya masih seperti semula. Yang berubah kurasa hanya pikiranku.
Entah mengapa aku mulai memikirkan semua keluargaku—dari garisku juga dari garis istriku. Kebetulan, sebagian besar dari mereka—yang kemarin-kemarin bilang ingin ‘titip awak’, malam ini hadir di sini. Tentu saja sebagai bukti atas keloyalan dan keseriusan upaya. Ada yang baru menjadi guru swasta, ada yang CV-nya baru kebagian proyek-proyek kecil, bahkan ada yang ingin ‘membeli’ tanah strategis—yang statusnya sebenarnya dalam posisi sengketa, dan lain-lain. Dan pikiran itu tak bisa berhenti, terus menimbang dan mengkalkulasi.*

Jepara – Demak, 2018-2021.

Tinggalkan Balasan