Puisi Isbedy Stiawan ZS

PERAHU BERLAYAR KE KOTA (2)
lelaki yang mendorong perahu itu
mengajak tetua dan anakanak
sementara kami dibiarkan bercumbu
arus bandang
perahu itu terus melangkah, layar
yang sobeksobek. “berdoalah untuk
keselamatan kita! berdoa hanya
pada Tuhan, bukan air langit atau
sungai. biarkan anakanak muda itu
mencari pulau yang diimpikan,” kata
lelaki itu
mendengar suaranya, sungguh, aku
teringat lelaki yang dulu menatah kayu
jadi perahu. sebelum bandang besar
menenggelamkan kota ini
sebelum Tuhan bersemayam dalam diri

SETELAH KAU PULANG
setelah kau pulang, aku ingin menjelma sepasang kursi di ruang tamu agar kukenang
tiap detak percakapan tadi. tawa dan ghibah, sekadar basabas dan curiga
“kenapa tidak kita jadi meja di atasnya tersaji nasi dan ikan bakar + sambal terasi
yang rasanya melupakan perjalanan jauh yang baru kita tempuh,” kataku sebelum
panjang percakapan. di layar telepon genggam keluar diamdiam sejumlah nama
yang turut mendengar. bahkan sesekali membantah dan merajuk, “kau terlalu asyik
dengan kawanmu, aku dilupakan. kau mau aku cari lelaki lain yang kujumpai di jalan tadi?”
kini aku ingin menjelma sepasang kursi dan sebuah meja tanpa lagi perjamuan
menyisakan tulangtulang ikan, sebelum kucing melahapnya untuk teman tidur malam ini
dan aku dan aku…
2021

BUNGA AKAN BERNYANYI
jangan lupa simpan bekas percakapan
malam kemarin, lalu uraikan jika kita
jumpai pertemuan yang lain. ingat pula
kursi dan meja pernah kita pilih hingga
ke kakikaki kursi meja itu setiap suku kata
tak abai dicatat. lalu seseorang yang tiba
mengingatkan: “sebaiknya hapus
percakapan itu, sebelum orang lain
mendengar atau mengambil.”
bukankan percakapan malam kemarin
itu di halaman ini, sebuah layar telepon
genggam, dan tak seorang mencuri
catatan. kecuali tamu lain berpurapura
pengemis, sambil merekam setiap
kalimat dari meja ini. karena lalai kita
biarkan berserak. seperti guntingan bunga
ditabur di depan pintu. pendatang menginjak,
atau memungutnya untuk persembahan
pada kekasih
“sebaiknya selalu waspada, dinding ini
lebih tajam dari telinga kita. tembok ruang
ini lebih cekatan dari mata dengan tangan
ini. kita akan dikurung oleh katakata, kota
akan penuh api karena percakapan kita.”
hatihati, tak perlu terlalu percaya
di halaman sepi pun. bunga akan bernyanyi
dinding akan cepat mengabarkan
17 Januari 2021; 02.30

SEPERTI MALAM
seperti malam
panggung akan sepi
turut menepi
menemui matahari
hanya seorang
yang membersihkan
bekas makanan
dan bacin kecupan
para pecinta
terburuburu
dijebak lelampu
gegas benderang
menjebak yang mabuk
seperti malam
panggung ditinggalkan
terasa sekali lengang
sisa bau ludah
di kursi dan lantai
bekas mabuk

Isbedy Stiawan ZS lahir di Tanjungkarang, Lampung, dan sampai kini masih menetap di kota kelahirannya. Ia menulis puisi, cerpen, dan esai juga karya jurnalistik. Dipublikasikan di pelbagai media massa terbitan Jakarta dan daerah, seperti Kompas, Republika, Jawa Pos, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Media Indonesia, Tanjungpinang Pos, dan lain-lain.
Buku puisinya, Kini Aku Sudah Jadi Batu! masuk 5 besar Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbud RI (2020), Tausiyah Ibu masuk 25 nomine Sayembara Buku Puisi 2020 Yayasan Hari Puisi Indonesia, dan Belok Kiri Jalan Terus ke Kota Tua dinobatkan sebagai 5 besar buku puisi pilihan Tempo (2020).

Tinggalkan Balasan