Kanonisasi Sastra Sah-sah Saja

Martin Suryajaya

 

*Tulisan merupakan hasil wawancara antara Gunawan Budi Susanto dan Martin Suryajaya

 

Martin Suryajaya dikenal sebagai pemikir dan penulis filsafat. Tak mengherankan, lantaran dia memang belajar di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta sejak 2005. Bahkan, tak lama lagi, dia bakal mempertahankan disertasi pada ujian program doktor di perguruan tinggi itu.

Pria kelahiran Semarang, 11 Maret 1986, itu pernah pula menjadi Pemimpin Redaksi Jurnal Filsafat Driyarkara (2007-2008), koordinator Pusat Studi Fenomenologi dan Filsafat Prancis STF Driyarkara, editor penerbit Aksisepihak (2008-sekarang), dan pengasuh rubrik “Logika” Indoprogress.

Dia menulis buku-buku filsafat, yakni Imanensi dan Transendensi (2009), Alain Badiou dan Masa Depan Marxisme (2011), Materialisme Dialektis: Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer (2012), Asal-Usul Kekayaan: Sejarah Teori Nilai dalam Ilmu Ekonomi dari Aristoteles sampai Amartya Sen (2013), Mencari Marxisme: Kumpulan Esai (2016), Sejarah Pemikiran Politik Klasik: dari Prasejarah hingga Abad Ke-4 M (2016), Sejarah Estetika (2016).

Lalu, 2016, dia menerbitkan novel Kiat Sukses Hancur Lebur (2016) dan 2020 meluncurkan buku puisi Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045.

Bagaimana pandangan Martin tentang sastra Indonesia? Gunawan Budi Susanto (GBS), pengampu Kelas Menulis Cerpen Kang Putu, mewawancarai Martin Suryajaya (MS) secara tertulis untuk pembaca Karas.

 

GBS: Anda menulis novel Kiat Sukses Hancur Lebur. Apa yang menjadi latar dan basis penulisan novel itu?

MS: Saya melihat Indonesia hari ini dan saya menjumpai suatu kekacauan yang asyik dan menggemaskan: cara orang melihat perkara kesuksesan, kekayaan material ataupun spiritual, dan khususnya cara orang melihat diri sendiri. Saya ingin menghadirkan perasaan asyik sekaligus gemas itu ke pembaca secara langsung, biar mereka merasakan juga. Untuk itu, perlu strategi narasi yang tidak menyaring kekacauan menjadi tatanan alur cerita dan penokohan, sehingga yang kacau menjadi tertib di benak pembaca. Apa yang saya pikir butuh strategi narasi yang menghadirkan langsung kekacauan itu. Kiat Sukses Hancur Lebur lahir dari sana.

GBS: Apa ekspektasi (horizon pengharapan) Anda dengan menerbitkan novel itu?

MS: Dalam hal susastra, saya sebetulnya tidak berharap banyak karena saya memandang diri saya sastrawan amatiran; seseorang yang menulis karya sastra sejauh perlu dan tidak sempat memikirkan sastra 24 jam sehari. Saya berharap karya saya bisa mengganggu pembaca. Saya hanya menulis sastra kalau ada realitas yang mengganggu saya dan membuat saya tidak bisa lain kecuali menuliskannya. Kalau tidak dipaksa seperti itu saya tidak akan menulis sastra. Saya berharap pembaca bisa terganggu oleh realitas Indonesia hari ini seperti saya juga terganggu. Jika rasa terusik itu muncul di benak pembaca, bagi saya itu sudah cukup. Dari situ, silakan pembaca mengambil kesimpulan bagaimana mesti berbuat.

GBS: Bagaimana respons khalayak terhadap novel tersebut?

MS: Sepertinya lumayan terganggu ya. Ada yang tertawa tidak habis-habis. Ada yang marah dan membanting buku itu, lalu tidak mau membacanya untuk selama-lamanya. Saya senang atas kedua macam respons itu. Penghargaan dari Majalah Tempo 2016 dan dari Badan Bahasa 2018 untuk Kiat Sukses Hancur Lebur semoga membuat calon pembaca makin penasaran.

GBS: Adakah ulasan yang berkesan bagi Anda, yang merupakan kontribusi kritikal bagi penulisan berikutnya?

MS: Ulasan-ulasan terhadap Kiat Sukses Hancur Lebur yang muncul umumnya sudah bisa saya duga. Jadi tidak ada yang bisa dibilang mengubah cara saya mengerjakan karya setelah Kiat Sukses Hancur Lebur.

GBS: Ketika kita bertemu di Bali, pada arena World Culture Forum 2016, Anda menyatakan Kiat Sukses Hancur Lebur merupakan buku pertama dari (rencana) trilogi. Kapan buku kedua dan ketiga terbit?

MS: Saya merencanakan Kiat Sukses Hancur Lebur dalam sebuah seri, tetapi belum yakin apakah akan jadi trilogi, tetralogi, atau lebih banyak lagi. Semua karya sastra yang akan saya tuliskan ke depan menghuni sebuah semesta fiksional yang sama, kendati didekati dari dalam jenis-jenis karya sastra yang berbeda: novel, puisi, esai, dan lain-lain. Buku puisi Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indoneesia 1945-2045 (3T) adalah seri kedua Kiat Sukses Hancur Lebur. Itulah sebabnya, protagonis Kiat Sukses Hancur Lebur, Anto Labil, saya sebut dalam buku puisi tersebut. Buku saya selanjutnya mungkin akan bermain dengan irisan antarjenis sastra berbeda lagi.

GBS: Apakah dengan menerbitkan buku puisi Terdepan Terluar Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045, Anda berkehendak menghibur pembaca? Keterhiburan macam apa yang Anda bayangkan dan harapkan?

MS: Buku puisi 3T, seperti Kiat Sukses Hancur Lebur, menimbulkan kebingungan pembaca mengenai jenis sastra macam apa. Ada pembaca yang melihat buku 3T bukanlah buku puisi, melainkan novel; ada juga yang melihat sebagai naskah drama, ada juga yang melihat sebagai “bukan puisi, bukan pula novel”. Seperti Kiat Sukses Hancur Lebur membuat sebagian pembaca memandang buku itu bukan novel, melainkan tulisan fiksi. Saya sadar, kebingungan semacam itu akan terjadi. Tujuan saya hampir selalu memotret kenyataan; saya dalam hal ini seorang realis. Namun karena kenyataan itu tidak mengenal jenis dan genre, tulisan yang saya hasilkan pun menabrak batas-batas antarjenis karya sastra dan itu wajar sebagai kebutuhan mengejar realisme. Selain itu, karena realitas begitu kacau dan pelik, bisa jadi realisme itu akan menghasilkan potret yang berkesan surealistik atau “tidak sesuai dengan pakem realisme sastra”. Dalam buku puisi 3T, saya memotret sejarah rohani sastra Indonesia, suatu kegelisahan tersembunyi dalam banyak penyair Indonesia mengenai apakah karya mereka akan masuk kanon, dicatat dalam sejarah, atau lenyap begitu saja seperti udara. Karena kegelisahan itu pada dasarnya adalah kegelisahan tentang sejarah, tentang antologi, tentang biografi-biografi, maka saya potret semua itu dalam sebuah buku antologi puisi fiksional. Buku 3T mungkin mengganggu banyak penyair Indonesia yang aspirasi tersembunyinya saya tampilkan secara terbuka dalam buku itu.

GBS: Apakah Anda akan menulis cerita pendek pula? Atau, bahkan sudah menulis cerita pendek? Kapan pula hendak menerbitkannya?

MS: Sejauh ini saya belum punya ide mau mengapakan cerita pendek, mau diganggu seperti apa bentuk cerpen itu.

GBS: Apakah Anda memiliki kredo sebagai penulis sastra?

MS: Sayang belum ketemu. Yang saya yakini sekarang masih berupa fragmen-fragmen yang belum bisa saya konsolidasikan ke dalam sebuah prinsip estetik yang koheren. Mungkin suatu saat nanti, setelah saya menuruti intuisi, saya menghasilkan aneka bentuk karya, barulah saya bisa menyimpulkan secara sistematis apa sebetulnya keyakinan saya.

GBS: Apa pandangan Anda mengenai sastra (berbahasa) Indonesia saat ini?

MS: Sastra Indonesia sekarang dikerjakan secara paralel dalam habitat yang berbeda-beda, dengan imajinasi kultural yang sangat beragam. Setiap sastrawan hari ini bebas untuk bereksperimen dan untuk tidak bereksperimen. Saya melihat itu gejala bagus karena perhatian yang beragam seperti itu bisa membuat kritikus sastra kesulitan membangun klasifikasi sastra hari ini. Dengan keberagaman itu, kita seperti hidup pada sebuah periode tanpa periode. Sejauh itu bisa bikin kritikus dan akademisi sastra kebingungan membuat kategorisasi, saya pikir bagus.

GBS: Apa pandangan Anda mengenai sastra kanon atau penganonan karya sastra?

MS: Kanon dibuat untuk tujuan spesifik. Untuk tujuan pendidikan budi pekerti di sekolah, misalnya, kanon bisa disusun dengan memilih daftar karya sastra yang mengandung nilai-nilai kebangsaan. Untuk tujuan diplomasi budaya Indonesia ke luar negeri, contoh lain, kanon bisa disusun dengan pertimbangan menyajikan keanekaragaman sastra Indonesia. Untuk dua tujuan itu, kanon saya pikir sah-sah saja dibuat. Yang bermasalah adalah ketika kita mau membuat kanon dengan imajinasi untuk menetapkan daftar karya terbaik dalam sastra Indonesia ditinjau dari ukuran-ukuran universal tentang estetika. Kanon “murni” itu tidak mungkin disusun karena cara kita memilih karya mengandung bias estetika tertentu, bias politik sastra tertentu. Oleh karena itu, pada Musyawarah Nasional Sastra Indonesia (Munsi) III yang lalu, saya mengusulkan kalau mau menjalankan kanonisasi, lebih baik menggunakan sistem undian: lima orang dari daftar lengkap sastrawan Indonesia dipilih secara acak setiap minggu untuk ditetapkan sebagai kanon sastra minggu tersebut. Dengan begitu, semua bisa ambil bagian dan kita jadi punya ukuran bagi kesehatan ekosistem sastra kita.

Tinggalkan Balasan